PENDIDIKAN DI JERMAN: Membuat Pendidikan Selalu Aktual
Salah satu pertanyaan yang sering dilontarkan jika berbicara mengenai
pendidikan di Jerman adalah bagaimana negeri itu bisa menyesuaikan
pendidikan dengan kemajuan teknologi yang dimiliki dunia industri. Atau,
bagaimana Pemerintah Jerman membuat pendidikannya selalu up to date?
Bagaimana mengatur hubungan antara dunia pendidikan dan dunia industri?
Berbagai pertanyaan itu memang pantas dikemukakan, terutama oleh kita yang
sering kali terseok-seok dalam mengembangkan dunia pendidikan serta mencoba
mengikuti perkembangan teknologi yang dimiliki dunia industri.
*Kiblat pendidikan teknik*
Namun, sebelum membedah rasa ingin tahu itu, perlu diketahui bahwa Jerman
merupakan negara yang memiliki latar belakang dan sejarah pendidikan yang
cukup lama. Selama ini, mungkin Jerman bukan kiblat utama untuk pendidikan
terkait masalah-masalah sosial. Namun, untuk bidang-bidang teknik, hingga
kini Jerman masih menjadi salah satu kiblatnya. Sudah berabad-abad lalu
masyarakat Jerman memiliki budaya suka bermain perkakas. Mereka suka
mengutak-utik alat.
Sikap dan kebiasaan itu didukung oleh rasa ingin tahu yang amat besar dari
kebanyakan orang Jerman. Tidak mengherankan jika sikap, kebiasaan, dan
budaya itu mendorong Jerman menjadi negara yang makin maju teknologinya.
"Yang saya ketahui, universitas di sini amat suka bersinergi antarmereka,
misalnya membuat perhimpunan perbaikan sistem pendidikan, perhimpunan
peningkatan penelitian di bidang tertentu, katakanlah elektro arus kuat,
maka dijalin kerja sama dengan MIT, Virginia, Imperial College London, atau
dengan Zurich, yang oleh banyak perusahaan dinilai sebagai
universitas- universitas elite. Di antara universitas- universitas ini sering
dilakukan tukar pikiran," kata Rinaldi Sabirin dari Jurusan Elektro TU
Darmstadt.
Kerja sama dan tukar pikiran ini juga dilakukan di antara universitas dalam
menciptakan suatu produk. Hal ini, barangkali, hampir tidak umum dilakukan
di Indonesia karena setiap universitas merasa memiliki kelebihan dan sering
sulit diajak bersinergi.
*Universitas- industri*
Kerja sama itu terus berlanjut, tidak hanya antaruniversitas, tetapi juga
antara universitas dan dunia industri. Biasanya, dunia industri menawarkan
semacam proyek kepada universitas. Jika universitas menyetujui, kemudian
dibuat kontrak, membuat penelitian dengan requirements dari industri, dan
hasilnya diberikan kepada industri.
"Jadi, sifat kerja sama ini tidak hanya consulting office, tetapi
benar-benar membuat produk," kata Rinaldi menambahkan.
Sebagai contoh, ada perusahaan meminta universitas untuk membuatkan sensor
listrik guna penghematan energi. Sensor itu akan bekerja dan memberikan
sinyal untuk menyalakan lampu apabila dilewati oleh orang atau benda
bergerak lainnya. Setelah tiga atau lima menit, lampu akan mati sendiri.
Jika disetujui, proyek itu akan diikat dengan kontrak antara universitas dan
perusahaan pemesan.
"Sang profesor yang mendapat tugas untuk melaksanakan segera membuat
perencanaan dan rancangan. Perencanaan dan rancangan itu lalu di-break-down
oleh asisten dosen yang biasanya terdiri dari mahasiswa S-3 yang sudah lulus
Dipl-Ing. Jadi, di sini profesor bertindak sebagai penanggung jawab,
sedangkan asisten sebagai pelaksana utama," kata Dipl-Ing Sofian Ardi Limoa,
alumnus Jurusan Elektroteknik Universitas Stuttgart.
Hasil break-down pelaksanaan proyek itu lalu ditawarkan kepada mahasiswa
tingkat akhir, dan bisa dijadikan bahan tesis sekaligus tugas akhir bagi
mahasiswa untuk meraih gelar kesarjanaan, bachelor atau dipl-ing.
"Dari sensor itu, misalnya, asisten akan membagi pekerjaan seperti sejauh
mana sensitivitas sensor yang akan dibuat, komponen apa saja yang
diperlukan, perangkat lunak seperti apa yang harus digunakan, dan
sebagainya. Jika mahasiswa sudah mengambil salah satu tugas, ia akan bekerja
baik di perpustakaan maupun di ruang praktikum, hingga benar-benar menemukan
apa yang diinginkan. Pembiayaan atas pelaksanaan tugas itu tergantung
kontrak. Bisa saja industri menanggung sepenuhnya, atau bisa saja kontrak
hanya berupa joint-project, " kata Rinaldi.
*Masuk kas universitas*
Meski dalam proyek bersama profesor yang menandatangani kontrak dengan dunia
industri, bukan berarti uang akan masuk ke kantong pribadi profesor. Uang
itu akan masuk kas universitas. Hanya saja, profesor berhak menggunakan uang
itu untuk pembelian alat-alat baru guna pengembangan pendidikan.
Apakah dengan cara ini selalu membuat pendidikan di Jerman terus up to date,
sejalan dengan perkembangan teknologi di dunia industri? Pertanyaan ini
perlu diajukan mengingat pengembangan kurikulum tidak secepat pertumbuhan
teknologi.
"Memang begitu. Tetapi, para profesor ini mempunyai waktu seminggu sekali
untuk bertemu, ngobrol-ngobrol soal pendidikan. Dari sana akan muncul perlu
tidaknya melakukan pengembangan kurikulum. Tetapi, yang lebih penting,
karena ini banyak terkait dengan teknologi, pengembangan kurikulum
sebenarnya ada di ruang praktikum," kata Rinaldi menambahkan.
*Bisa sampai pagi*
Sebagai contoh, di ruang praktikum Teknik Elektro TU Darmstadt terdapat
sejumlah mahasiswa sedang mengerjakan tugas akhir yang menjadi bagian
"pesanan" dunia industri. Tugas-tugas akhir itu antara lain mesin listrik
dengan putaran 40.000 RPM, tetapi tidak memakai lager. Sistem yang digunakan
adalah menggunakan magnet, seperti kereta magnet. Jadi, benda yang berputar
itu "diangkat" dan berputar karena gaya tarik magnet. Penelitian ini bisa
menjadi bagian utama generator atau motor, tergantung di mana akan
dioperasikan. Selain itu, karena gesekannya minimal, hal itu diharapkan akan
menambahkan keawetan.
Ada pula mahasiswa yang sedang meneliti direct pump. Selama ini umum
diketahui, mesin pompa selalu ada di luar dengan dua saluran: satu untuk
menyedot dan satu lagi untuk mendorong. Tetapi mesin yang diteliti itu nanti
akan diletakkan di tengah-tengah pipa. Dan yang istimewa, daya isap serta
daya dorongnya bisa ditingkatkan menjadi 50 meter sedot dan 50 meter dorong.
Kerja ini melibatkan sejumlah lembaga, antara lain pembuat pipa dengan
propeler, dan ada aktuatornya, serta bahan untuk kontrol dan lainnya.
"Kalau yang ini adalah karya anak dari RRC. Dia membuat brake atau rem by
wire. Artinya tidak menggunakan kabel, tetapi memanfaatkan sensor. Proyek
ini merupakan kerja sama dengan Bosch. Jadi, saat rem diinjak, ia akan
mengeluarkan sinyal dan diterima untuk menggerakkan komponen lainnya. Masih
banyak lagi. Atau mobil listrik ini. Tetapi, kalau sudah bekerja di
laboratorium atau ruang praktikum ini, sering tidak ingat waktu. Apalagi
kalau dikejar deadline, bisa bekerja sampai pagi," kata Rinaldi Sabirin.
(TON)
------------ ---
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/07/29/ 02582585/ gratis... .bayar...
.gratis.lagi.
..
Pendidikan di Jerman
Gratis... Bayar... Gratis (Lagi)...
KOMPAS/TONY D WIDYASTONO /
Selasa, 29 Juli 2008 | 03:00 WIB
Akhir Mei lalu wartawan Kompas, Tonny D Widiastono, berkesempatan melihat
dari dekat kehidupan beberapa kampus di Jerman. Negeri penghasil
barang-barang berteknologi tinggi ini masih menjadi daya tarik bagi para
calon mahasiswa dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Di lain pihak,
kampus-kampus di Jerman banyak mengalami kemajuan dan perubahan. Berikut
laporannya.
Sisa-sisa pamflet berwarna oranye dengan tulisan warna hitam dan berisi
ajakan untuk berdemo bagi mahasiswa Technische Universitat (TU) Darmstadt
itu masih tertempel di sana-sini. Meski ajakan itu sudah berlaku sejak 24
Mei 2007, aksi dan gemanya masih terasa hingga satu tahun kemudian. Bahkan,
akhir Mei 2008 lalu demo mahasiswa masih terus dilakukan.
Demo itu dipicu keputusan negara bagian Hessen-Jerman yang memberlakukan
keharusan membayar biaya studi bagi para mahasiswa. Keputusan ini amat
mengagetkan mahasiswa karena selama ini kuliah di negara bagian itu masih
gratis. Selain itu, dengan adanya ketentuan membayar kuliah, berarti
pemerintah telah menghilangkan hak dan kesempatan yang sama bagi seluruh
masyarakat (kaya atau miskin) untuk mendapatkan pendidikan.
Atas ketentuan ini, para mahasiswa tegas menolak. Maka, lahirlah
pamflet-pamflet berisi ajakan demo. "Demo. Gegen Studiengebühren.
Verfassungsklage" (Demo. Melawan pungutan belajar. Komplain terhadap hal-hal
yang tidak konstitusional) .
Meski demikian, demo mahasiswa ini bukan sembarang demo, demo disertai
penelitian dan penyelidikan. Para mahasiswa menemukan ketentuan yang termuat
dalam undang-undang negara bagian bahwa lembaga pendidikan tidak boleh
memungut uang dari peserta didik.
Ketentuan inilah yang digunakan sebagai senjata oleh para mahasiswa dalam
berdemo. Demo-demo itu "membawa hasil". Mulai semester mendatang, kuliah
diselenggarakan tanpa pungutan uang alias gratis lagi
*Sebagian kecil*
Terkait bayar-membayar uang kuliah, Dipl-Ing Chip Rinaldi Sabirin, mahasiswa
S-3 Digital Control of Active Magnetic Bearings for High-Speed Drives,
Jurusan Teknik Elektro, Institut für Elektrische Energiewandlung, TU
Darmstadt, mengemukakan, pembayaran uang kuliah dimaksudkan sebagai
"bantuan" kecil atas beban biaya pendidikan yang harus ditanggung negara.
Selama ini biaya pendidikan mahasiswa teknik di TU Darmstadt sebesar 5.000
euro per tahun per mahasiswa, setara dengan Rp 73 juta (asumsi 1 euro sama
dengan Rp 14.600). Untuk membiayai 17.000 mahasiswa TU Darmstadt, setiap
tahun diperlukan biaya 85 juta euro.
"Jadi, kalau mahasiswa membayar uang kuliah 500 euro per semester atau 1.000
euro per tahun, yang saya dengar, jumlah itu tidak banyak berpengaruh pada
pembiayaan. Memang sudah diperkirakan, suatu saat, belajar di Jerman harus
membayar karena semakin banyak negara baru yang menguasai teknologi. Hal ini
membuat Jerman tidak menjadi 'penguasa tunggal' teknologi. Dulu, negara
berteknologi kuat hanya Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat. Sekarang mulai
menyusul Korea Selatan, Taiwan, dan bekas Jeman Timur," ujar Rinaldi
Sabirin.
Ia mengakui, akhir-akhir ini masalah dana membuat Pemerintah Jerman dan
beberapa negara bagian kerepotan. Ke mana mereka harus mencari biaya sebesar
itu, sedangkan mereka yang berniat belajar ke Jerman terus meningkat. Maka,
meski memberi sumbangan kecil, penarikan uang kuliah itu sebenarnya ada
manfaatnya bagi perguruan tinggi sendiri. Di Jurusan Elektro TU Darmstadt,
misalnya, sudah banyak dilakukan pertemuan untuk pembagian pemanfaatan uang
kuliah, terutama untuk pengadaan sarana.
"Bahkan, universitas sudah mensyaratkan alat-alat praktikum baru sudah harus
digunakan oleh para mahasiswa baru semester mendatang. Ini memerlukan biaya.
Melihat kenyataan ini, meski sudah mengambil uang kuliah, profesor tetap
harus mencari dana lain di dunia industri untuk membantu pendidikan," tutur
Rinaldi Sabirin. (baca juga: Membuat Pendidikan Selalu Aktual).
*Daya tarik*
Selain gratis, mutu pendidikan yang tinggi dan diakui dunia menjadi daya
tarik tersendiri bagi banyak mahasiswa dari seluruh dunia untuk belajar ke
Jerman. Hal itu juga diakui Dr Ing Gunadi Sindhuwinata, President Director
Indomobil.
"Yang amat menonjol dari pendidikan di Jerman adalah mutu yang bagus dan
gratis. Dulu itu semua berlaku pada semua perguruan tinggi di seluruh
Jerman. Kalau pun sekarang ada yang harus membayar, jumlahnya tidak besar
dan umumnya masih bisa dijangkau. Memang, pendidikan menjadi tanggung jawab
negara. Maka, dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya, belajar di
Jerman adalah yang paling murah dengan mutu yang bagus," ujarnya.
Salah satu penyebab mengapa mutu pendidikan di Jerman tetap tinggi antara
lain karena organisasi yang disentralkan, kurikulum standar yang berlaku
pada masing-masing negara bagian. Dan, semua itu diatur. "Sehingga, kalau
orang Jerman asli lulusan gymnasium ingin masuk universitas, mereka harus
mendaftar melalui Zentralstelle für die Vergabe von Studienplätzen, semacam
pusat penempatan mahasiswa. Sementara itu, bagi mahasiswa asing, mereka
harus melalui tahap pendidikan yang disebut studienkolleg selama sekitar
delapan bulan.
"Dalam hal mutu, Jerman memang tidak kenal kompromi. Ujian hampir selalu
berbentuk esai, tidak pernah berbentuk check system. Maka, jika mahasiswa
tidak memahami materi kuliah, akan sulit mengikuti ujian. Padahal, di sana
ada ketentuan, kalau dua kali gagal pada jurusan yang dipilih, mahasiswa
harus keluar, tetapi boleh pindah ke jurusan lain. Sementara itu, proses
kuliahnya, selain tutorial, mahasiswa diwajibkan untuk belajar sendiri.
Muatan belajar sendiri ini amat tinggi. Jika mahasiswa tidak biasa dan tidak
siap belajar mandiri, akan menemui banyak masalah atau kegagalan," tambah
Gunadi.
Soal dosen, mereka umumnya dosen karier. Tetapi, tidak sedikit yang diambil
dari dunia industri. Dengan demikian, ada hubungan kuat antara dunia
pendidikan dan industri. Soal buku, mahasiswa tidak perlu khawatir karena
bibliotek yang lengkap selalu tersedia di mana-mana.
------------ -------
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/07/29/ 0254516/kejujura n.roh.utama.
pendidikan
Pendidikan di Jerman
Kejujuran, Roh Utama Pendidikan
Selasa, 29 Juli 2008 | 03:00 WIB
*Tonny D Widiastono*
Bagi Anda yang mempunyai kebiasaan mencontek dan ingin belajar ke Jerman,
diingatkan untuk menghentikan kebiasaan buruk itu. Alasannya, mencontek
bukan saja menipu diri sendiri, tetapi juga merusak kejujuran yang merupakan
roh utama pendidikan.
Tradisi untuk mempertahankan kejujuran dalam dunia pendidikan sudah
ditanamkan sejak adanya pendidikan itu sendiri. Maka, dalam pendidikan di
Jerman, amat sulit ditemukan tesis, disertasi, atau skripsi yang merupakan
plagiasi atau manipulasi, atau tindakan sejenisnya, atau hal lain yang
tercakup dalam perilaku ketidakjujuran akademis. Itu semua disebabkan oleh
upaya menjunjung tinggi kejujuran yang terkait erat dengan nilai kebenaran.
"Saya bersyukur, di sini ada peraturan yang amat keras. Mencontek, jika
dianggap amat parah, bukan hanya tidak lulus, tetapi juga dikeluarkan. Semua
aturan terkait kejujuran itu sudah tercantum dalam Studienordnung. Cari saja
paragraf soal mencontek, akan keluar berbagai aturannya. Semua ketentuan itu
sudah tercantum di sana, antara lain aturan studi dan aturan ujian. Semua
sudah jelas," kata Yohanes Bosco Djawa OCarm, pastor asal Bajawa-Flores yang
menjadi mahasiswa Filsafat Teologi Sankt George di Frankfurt.
Adanya ketentuan dan dilaksanakan secara ketat membuktikan bahwa Jerman
masih menghargai kejujuran, bahkan menempatkannya sebagai yang utama atau
roh utama pendidikan. Bahkan, untuk membuat skripsi, mahasiswa tidak bisa
begitu saja melakukan copy and paste. Mahasiswa yang melakukan itu jangan
harap bisa lolos begitu saja.
Dipl-Ing Rinaldi Sobirin dari Fakultas Teknik Elektro, TU Darmstadt,
bercerita, beberapa waktu lalu ada teman dosen, orang Jerman, menemukan
sebuah tesis yang sedang diajukan dan di dalamnya ada bagian yang membuatnya
ragu. Dosen tersebut memang harus membaca semua dulu, sebelum memberikan
kata pengantar.
"Dia bilang, untuk bagian ini, kok, dia merasa pernah membaca. Lalu
dicarilah di internet. Ternyata benar, bagian skripsi itu mencontek dari
RWTH Aachen. Teman saya tahu, ini bukan bahasa mahasiswa, ini bahasa
profesor. Tetapi, karena ini praktikum suatu eksperimen dan bukan ujian, dia
minta untuk perbaikan, dan diingatkan untuk tidak mengulangi lagi. Kalau
tidak, si mahasiswa bisa dikeluarkan, " tuturnya.
"Begitulah yang terjadi. Jerman ini maunya menghasilkan insinyur dan
intelektual yang mumpuni, bukan hanya ahli ngecap," kata Rinaldi lagi.
Maka, calon mahasiswa selalu diingatkan, datang ke universitas tidak
otomatis lulus. Belajar di Jerman memerlukan perjuangan yang amat keras
untuk bisa lulus. Mereka yang mendapat informasi keliru dari lembaga yang
kurang paham sering kaget melihat kenyataan di Jerman. "Seolah belajar di
Jerman itu gampang. Hidup di Jerman pun lempeng saja. Mereka tidak tahu
hidup dan belajar di sini penuh tangisan dan keringat," kata Rinaldi.
*Tugas semua*
Terkait masalah kejujuran dalam dunia pendidikan, hal itu sudah selayaknya
dipelihara dan diutamakan dalam dunia pendidikan. Sebab, bagaimana
pendidikan akan memberikan nilai-nilai utamanya apabila kejujuran sudah
hilang dari institusi ini.
"Maka benar kalau dikatakan kejujuran adalah roh pendidikan. Kami di sini
sejak kecil memang dilatih untuk jujur, apa adanya, tidak memanipulasi
hasil. Meski demikian, tidak berarti praktik ketidakjujuran sudah hilang. Di
sekolah tentu saja masih ada yang tidak jujur. Maka, peraturan itu menjadi
penting dan harus ditegakkan," kata Christian Dick, mahasiswa Teknik Elektro
semester IV di TU Darmstadt.
Selain menjadi roh pendidikan, kejujuran juga mendorong persaingan yang
sehat dalam menciptakan sesuatu. Kalau tidak, bagaimana mungkin bangsa
Jerman menghargai berbagai temuan. "Maka, dalam skripsi atau karya tulis pun
semua harus jelas. Berbagai kutipan yang dilakukan harus ditunjukkan
sumbernya. Dengan cara ini, kami diajak untuk menghindari plagiasi,
menghindari penipuan," kata Dick seraya bertanya, "Kalau pendidikan sudah
dicurangi, hasil apa yang akan diperoleh?"
*Penghasilan*
Kejujuran juga terkait dengan kehidupan dan penghasilan. Seseorang yang
hanya bekerja sebagai dosen memang bisa hidup "lebih baik" daripada seorang
mahasiswa. Tetapi, ia jelas tidak mungkin hidup dengan gaya seperti seorang
menteri atau pejabat negara. Artinya, orang Jerman sudah terbiasa hidup apa
adanya, jauh dari rasa tamak, jauh dari keinginan untuk berlaku tidak jujur
dengan memanfaatkan jabatan atau profesi. Semua ada standarnya.
"Benar, di sini semua ada standarnya. Gaji pembantu dosen tidak akan mungkin
lebih tinggi dari profesor. Sebagai pembantu dosen dengan status bujangan,
mereka akan mendapat gaji bersih antara 1.600 euro hingga 1.700 euro," kata
Rinaldi.
Disebut gaji bersih karena sudah dipotong pajak, asuransi, pensiun, dan
sebagainya. Dengan gaji bersih 1.600 euro atau 1.700 euro, berarti gaji
kotor pembantu dosen itu sekitar 3.200 euro atau 3.400 euro. Jadi, potongan
pajak hampir mencapai 50 persen.
"Kalau sudah berkeluarga, perhitungan gaji juga didasarkan pada jumlah anak.
Yang jelas, pembantu dosen yang sudah berkeluarga minimal akan mendapat gaji
2.100 euro dan paling besar sekitar 3.000 euro. Jumlah itu lebih besar
karena ada subsidi untuk anak," kata Rinaldi menambahkan.
Faktor gaji yang tinggi bagi pegawainya membuat Pemerintah Jerman harus
pandai-pandai menyiasati persaingan dengan negara Eropa Timur, apalagi
negeri di kawasan itu juga mumpuni di bidang teknologi. Bisa-bisa perusahaan
atau tenaga ahli diambil dari Eropa Timur yang masih bisa digaji lebih
rendah. Jika itu yang terjadi, ini akan merupakan bencana bagi masyarakat
Jerman sendiri.
Lalu, bagaimana jika seseorang yang telah bekerja di Jerman kemudian kembali
ke negeri asalnya? Semua juga sudah diatur. Bahkan, uang pensiun yang sudah
dikumpulkan setiap bulan bisa diminta kembali apabila yang bersangkutan akan
pulang selamanya ke negeri asalnya.
"Uang pensiun bisa diambil. Memang, harus menunggu persetujuan dua atau tiga
tahun. Tetapi, biasanya selalu dapat diambil kembali," ujar Rinaldi.
*Mandiri*
Tentang pendidikan di Jerman, Rinaldi juga mengakui, Jerman memberikan
kualitas yang istimewa. Hal yang tidak terbantahkan adalah tersedianya
fasilitas untuk pendidikan. Memang, fasilitas bukan segala-galanya, tetapi
ini memacu motivasi studi, apalagi fasilitas untuk praktik.
"Bagi saya pribadi, belajar di Jerman menempa kita untuk mandiri. Di Jerman,
umumnya orang dituntut untuk bisa mandiri. Kalau ia bisa melewati masa itu,
ia akan berhasil dan mumpuni. Dulu, dari Rektor Aachen, membuat sistem yang
memaksa mahasiswa harus mandiri. Jika tidak bisa mandiri, dia akan out. Jadi
yang lulus benar-benar orang yang siap survive di dunia kerja," tutur
Rinaldi yang lulusan SMA Negeri II Surabaya ini.
Namun, keistimewaan Jerman dalam pendidikan bukan dibangun dalam satu dua
tahun. Jerman juga memiliki latar belakang dan sejarah pendidikan yang lama,
terutama untuk bidang teknik. Maka, hingga kini, Jerman masih menjadi kiblat
bagi siapa pun yang ingin belajar teknik. "Hal ini juga dikuatkan oleh
kebiasaan orang Jerman yang suka bermain perkakas, suka utak-utik alat sejak
berabad-abad lalu. Maka, tak heran jika teknologi dari Jerman masih sulit
ditandingi," kata Rinaldi.
Hal itu juga diakui Charles Kusuma Wijaya, mahasiswa Teknik Informatika TU
Darmstadt.
Dia mencontohkan, produk Jerman yang sudah mendunia dan murah adalah musik
dalam format MP3 yang diciptakan Profesor Dieter Seitzer dari Erlangen,
Universitas Nueremberg, dan dikembangkan oleh Karl Heinz Brandenbrug. "MP3
ini benar-benar made in Germany yang murah dan mendunia. Siapa sekarang yang
tidak mengenal MP3? Hampir semua orang mengenal MP3," kata Charles, lulusan
SMA Marsudirini, Matraman, Jakarta, ini.
Charles mengakui, ia belajar ke Jerman karena tertarik kualitas yang
ditawarkan.
Hal serupa dialami Philemon Ivan Derwin (mahasiswa Teknik Industri), Dhanang
Kusumaningtyas (mahasiswa Teknik Elektro), Putri Kusumaningtyas (mahasiswi
Teknik Informatika) , dan Agnes Nirmalasari (mahasiswi Sastra Jerman).
"Belajar di Jeman, selain kualitasnya bagus, juga murah dan tidak neko-neko.
Semua pengeluaran uang jelas maksudnya. Mungkin kalau dihitung-hitung, lebih
murah di Jerman dibanding di Jakarta. Hanya saja belajar di sini tidak bisa
bersantai-santai. Selain itu, belajar di Jerman akan membuka wawasan kita
karena bergaul dengan manusia dari berbagai penjuru dunia. Istilah kerennya,
menjadi manusia internasional, " kata Agnes.
*Hanya untuk TK*
Ihwal keharusan membayar uang sekolah, menurut Christian Dick yang asli
Jerman, hal itu lebih didasarkan pada undang-undang negara bagian
masing-masing. Memang, untuk pendidikan dasar hingga perguruan tinggi,
semuanya gratis. Artinya, pemerintah berkewajiban menyediakan sarana
pendidikan, dan semua orang diberi kesempatan yang sama untuk mengenyam
pendidikan.
Maka, pada jenjang itu, masyarakat dibebaskan dari kewajiban membayar uang
pendidikan. Apalagi, Pemerintah Jerman memberlakukan kewajiban untuk sekolah
bagi semua warganya. Bahkan, kalau tidak mau sekolah, polisi bisa memaksa
orangtua dan anak-anaknya untuk sekolah.
"Tetapi untuk taman kanak-kanak berbeda. Selain diberi aneka pengetahuan
yang terkait dengan kebutuhan anak-anak, mereka juga disediakan makanan yang
sehat dan fasilitas untuk istirahat. Dengan demikian, wajar kalau anak-anak
taman kanak-kanak justru diharuskan membayar. Pembayaran itu, sekali lagi,
bukan untuk pendidikannya, tetapi karena harus menyediakan sarana tidur,
memberikan makan, dan sebagainya," kata Dick.
Terkait dengan kualitas pendidikan yang diberikan oleh semua lembaga
pendidikan di Jerman, Dick tidak menyangsikan.
"Ya, itu semua sebenarnya hasil upaya dan usaha yang lama. Maka, usia
pendidikan di Jerman sendiri umumnya cukup tua. Fakultas Elektro di TU
Darmstadt ini saja sudah berusia 125 tahun. Sudah cukup tua," katanya
menambahkan.
Sumber: Kompas.com
Mohon bantuannya untuk mengisi survei daya saing Indonesia di
http://www.ips.or.kr/site/IPS/mail/survey/20110120/26.html
*****************************************************************
Indonesian Production and Operations Management Society (IPOMS).
http://blog.ipoms.web.id/
Bergabunglah dengan IPOMS di Facebook
http://www.facebook.com/home.php?ref=home#/group.php?gid=34994473375
********************************************************************
No comments:
Post a Comment